Menyusun Kurikulum

Dari pengalaman bertahun-tahun dan melihat kebutuhan orang, saya membagi empat kategori orang belajar alat musik klavir ini: piano klasik, piano pop, organ klasik dan organ pop.

Piano klasik, tak perlu dijelaskan, punya keindahannya sendiri dan sampai sekarang diyakini menjadi akar dari semua aliran piano yang ada. Tapi tidak banyak yang betah dengan prosesnya yang lama dan bertahap, serta lagu-lagu yang harus dipahami dengan jiwa yang sederhana dan imajinatif.

Piano pop, semakin banyak diminati orang karena lagu-lagunya yang lebih akrab di telinga dan catchy. Kebanyakan orang akan berpikir, belajar piano pop lebih sederhana dan tidak serumit piano klasik. Nyatanya, tetap saja Anda butuh belajar piano klasik dulu agar bisa memainkan piano pop dengan smooth dan indah.

Organ klasik. Tidak banyak yang tahu keindahan suara instrumen organ memainkan karya-karya musik era baroque hingga romantik. Organ identik dengan alat musik gereja, dan karena pengajaran organ yang dipopulerkan di Indonesia adalah khas milik satu lisensi, maka gaya bermain itulah yang melekat di organ. Padahal komposisi-komposisi organ klasik tidak kalah banyaknya dengan piano dan dilahirkan hampir bersamaan dengan komposisi piano oleh musisi-musisi beken pada zaman itu.

Organ pop. Nah, ini biasanya pilihan orang-orang yang terlanjur memiliki organ dan ingin belajar dengan alat yang ada. Bisa aja sih lagu-lagu pop dimainkan dengan organ, namun keinginan ini ada di tengah-tengah. Jika dimainkan ala kadarnya, maka jadinya tidak lepas dari nuansa gerejani dan mm.. sedikit.. kuno? Sebaliknya, organ juga bisa memfasilitasi kita bermain full band dengan fitur-fitur yang diberikan. Namun ini butuh effort yang lebih banyak. Bayangkan seperti bermain keyboard, tapi Anda harus mengatur 3 suara, bermain 3 klavir di saat bersamaan dan memikirkan iringan yang pas pula untuk tiap bagian lagu. Wow!

Yah.. begitulah. Sejauh ini ada aja murid yang minta empat kategori ini, maka saya mulai menyusun apa yang akan saya ajarkan.

Piano klasik sudah punya tuntunan sendiri, dan di seluruh dunia sampai kapan pun, tuntunan ini tidak banyak berubah. Seringkali urutan memberikan materi  diubah-ubah, disesuaikan dengan kemampuan murid menyerap materi. Secara garis besar, berikut ini materi yang perlu disampaikan:
# cara menekan tuts yang benar dan baik
# mengenal, menghafal dan merasakan not balok
# cara bermain legato dan staccato
# mengidentifikasi melodi dan pengiring
# mengenal pola melodi dan harmoni
# menerapkan dinamika
# menerapkan perubahan tempo
# mengasah keterampilan jari
# melatih gaya bermain untuk menunjang bunyi
# membedakan ekspresi
#mengenal ciri khas para komposer
# mengenal ciri khas bentuk-bentuk komposisi

Piano pop. Tiap sekolah musik, tiap guru bisa memiliki materi ajar sendiri-sendiri karena berdasarkan pengalaman pribadi mereka mengeksplor perkembangan musik era kekinian. Oleh karena itu, butuh banyak sumber dan pemikiran yang lebih dalam menyusun kurikulumnya. Saya memutuskan basicnya adalah sebagai berikut.
# sepaket tangga nada
# perbanyak sampel lagu
# kenalkan bentuk iringan
# sepaket chord
# ajarkan membuat intro-interlude-ending
# improvisasi dan bridge

Organ klasik. Syukurlah karena ilmu ini sama kunonya dengan piano klasik, ada tuntunan juga yang tidak banyak berubah dari dulu sampai sekarang dan hampir sama dengan piano. Hanya saja, mendapatkan buku-buku ini sangat sulit di Indonesia. Satu-satunya yang lengkap dan terjangkau adalah metode pembelajaran bermain organ ala Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. Jangan tertipu dengan gambar dan notasinya yang seringkali masih ditulis dengan tangan dan judul-judul lagu yang di-Indonesiakan, karena lagu-lagu di buku PML sebenarnya banyak yang terjemahan dari karya komposer –komposer beken.

Organ pop.Tahapannya sama dengan piano pop, namun dengan cara bermain ala organ. Kembangkan imajinasi iringan yang ingin dibuat, set suara dan accompaniment; tentukan tangan mana yang memainkan melodi, iringan dan bassnya. Saya tidak mengajarkan memaksimalkan fitur karena setiap organ punya fitur yang berbeda. Saya sendiri tidak begitu paham dengan organ-organ yang berbeda tipe dengan punya saya dulu. Sebagai dasar, pengetahuan tentang intro-ending-fill in-syncro start-syncro stop perlu untuk diberikan sehingga murid bisa mengembangkan permainannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s