Adult Piano Education

“Orang tua dulu ga support untuk musik, yang penting sekolah dulu. Padahal pingin.. Sekarang udah terlambat deh mau belajar.”

Saya seriiiing sekali mendengar kisah seperti ini, bahkan kalimat itu juga pernah keluar dari mulut saya dalam versi yang sedikit berbeda.

Orang mengira saya sudah bergelut dengan piano sejak kecil. Tidak terlalu salah karena memang saya pernah les piano dan organ saat kelas 5 SD, tapi hanya 2 tahun.. Yang lama les organnya, sampai 9 tahun. Ketika dewasa, saya stuck dengan perorganan. Dan sebenarnya sudah sejak lama saya lebih tertarik ke piano. Maka keluarlah kalimat tadi dari mulut saya..

November tahun 2014 kemarin, tepat 6 tahun saya belajar piano dengan intens. Untuk memperingatinya, saya akan menceritakan sebuah keajaiban.

Di tengah luangnya waktu mengerjakan skripsi–maksud saya, di saat bengong harus mengerjakan dari mana, memperbaiki apa, dan sebagainya, saya mulai memikirkan nanti setelah lulus mau bekerja yg bagaimana. Teringat lagi impian waktu kecil, kalau ditanya orang saya selalu bilang ‘mau jadi guru’. Guru organ tentunya.. Tapi dalam hati saya tidak terlalu yakin menyebut ‘jadi guru organ’, karena yang terbayang adalah sosok tunggal bermain di balik alat akustik hitam dengan tuts berjajar panjang satu baris.

Maka ketika memikirkan lagi dan impian itu masih muncul, saya semakin serius berpikir. Tahu kan.. Seringkali kita memiliki mimpi namun ketika dewasa tidak lagi ingat, atau bahkan terkikik geli menertawakan mimpi kita sendiri. Mimpi yang satu ini tidak membuat saya terkikik, dan masih melekat sama kuatnya ketika anak-anak. Saya mulai mencari jalan.. Memikirkan peluangnya untuk terwujud.

Kebetulan pada saat itu, entah mengapa saya sering diminta untuk mengiringi dengan piano (walaupun atas dasar ‘terpaksa’ karena pianis aslinya berhalangan, atau karena si klien tidak bisa membedakan organis dan pianis). Tawaran untuk memberikan kursus pun datang. Saya pun bingung.. Mau ngursusin apa, saya sendiri ndak bisa main piano.

Di suatu pagi, usai misa di gereja depan kos, sebuah pamflet berwarna menarik perhatian saya. Kursus piano! Di situ ditulis ‘bisa ujian berijazah’. Pengajarnya pun bergelar MPd. Pamflet itu secara keseluruhan menunjukkan hal yang tidak biasa. Aneh. Dan saya..selalu tertarik dengan hal yang aneh-aneh.😄

Mengapa seorang guru piano menyertakan gelar master pendidikannya? Gelar tersebut didapat dari bangku akademis pastinya, dan biasanya orang akan melihat kemampuan seorang guru piano dari ‘muridnya siapa?’, ‘lulusan konservatori?’, ‘pernah juara apa?’.

Keanehan kedua.. Pamflet sejenis biasanya dibuat dengan tidak niat, atau amat sangat niat sehingga terkesan berlebihan. Tapi yang ini diprint di kertas hvs warna pastel, dengan gambar sederhana sepasang tangan di atas tuts piano dengan hiasan not-not balok di sekitar tulisan. Gaya bahasa yang jelas, singkat dan lugas. Saya langsung merasa ‘klasik’ ketika melihatnya.😀 Saya mau jadi guru, bukan entertainer. Saya tidak tertarik dengan gemerlap pamflet yang menjanjikan gemerlap panggung.

Ini yang saya cari. Mari kita lihat, apa yang bisa ibu MPd lakukan pada lulusan S1 bongkot yang hendak banting setir ke piano ini. Maka saya menelponnya.

Saya langsung saja menuturkan latar belakang musik saya dan menyebutkan keinginan saya untuk les dengan tujuan ambil ijazah-ijazah sehingga bisa jadi guru piano. Apakah langsung diiyakan? Tidak, hahaha.. ‘Saya harus lihat dulu mainnya bagaimana. Kapan bisa menemui saya?’, begitulah respon yang langsung membuat saya keder sedikit.

Iya ya.. Saya ini belum bisa main piano, kok bilang les cuma mau ambil ijazah.😄 Kalau inget, maluuuu banget. Dan di hari yang dijanjikan, saya bermain sebuah lagu dengan menekan pedal sustain sepanjang lagu.. Khas amatir hahaha..

Seiring proses saya semakin memahami, guru saya bukan guru biasa. Beliau lulusan master pendidikan musik dengan thesis pendidikan musik untuk orang dewasa. Hampir di setiap les kami berbincang tentang pengalaman bermusik, tujuan saya menjadi guru, bahkan saya pernah menangis di depannya saat merasa sudah tidak mungkin lagi melanjutkan les piano ini karena sibuk bekerja.

Dengan pengalaman mengajar piano puluhan tahun dan pendidikan akademisnya, Beliau tahu benar bagaimana menghadapi murid-murid model kayak saya begini. Tidak hanya mengajarkan bermain piano yang benar, Beliau juga mengajarkan budaya, cara belajar sampai etika menjadi guru piano klasik.

Anda akan tahu kualitas seseorang ketika memahami apa yang dilakukannya, apa yang diberikannya. Bukan dari ijazah atau embel-embel yang meyakinkan. Guru saya memiliki 2-2nya, namun tahu benar apa yang harus diberikan sebagai guru. Saya sendiri seringkali tidak paham, mengapa Beliau memberi sebegini ‘mewah’. Uang les yang saya bayarkan setiap bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan pelajaran yang hanya bisa didapat dari pengalaman dan cara berpikir yang oke untuk mengolah pengalaman-pengalaman itu.

Begitulah, beliau selalu bilang, jika mengajar orang dewasa. Anak-anak mungkin hanya perlu diteter kedisiplinan dan diajarkan cara bermainnya, tapi orang dewasa datang dengan segala permasalahannya; sehingga mengajarnya pun tidak bisa disamakan dengan anak-anak.

Belakangan saya tahu, bahkan untuk membuat pamflet dan mini concert-mini concert pun beliau tidak asal. Semua adalah aplikasi dari ilmu yang ditimbanya dari banyak sumber. Di zaman yang serba praktis sekarang, berapa banyak guru yang mau repot-repot berusaha ‘menjadikan’ muridnya sampai benar-benar berhasil? Karena itu saya sebut di awal cerita, ini adalah keajaiban. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s